Menu ✖

Mode Gelap

Politik Hukum · 14 Apr 2026 14:14 WIB

Anggota DPR Soroti Status Tahanan Rumah Mantan Menag Yaqut Cholil


					Anggota Komisi III DPR RI, Soedeson Tandra Perbesar

Anggota Komisi III DPR RI, Soedeson Tandra

JAKARTA,INDEPENDENSIBER.com – Anggota Komisi III DPR RI, Soedeson Tandra, menilai langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengalihkan status penahanan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menjadi tahanan rumah sebagai hal tidak lazim.

Meski regulasi memperbolehkan penangguhan penahanan, ia meminta KPK mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat.

Soedeson mengkhawatirkan kebijakan tersebut bakal memicu tuntutan serupa dari tersangka korupsi lainnya demi kesetaraan perlakuan hukum.

Ia mengingatkan bahwa kepantasan dan kelayakan tindakan penegakan hukum merupakan poin krusial yang wajib terjaga.

“Masyarakat dalam melihat tindakan aparat penegak hukum akan bertanya, apakah tindakannya sudah patut? Sudah layak? Sudah menciptakan rasa keadilan?” ujar politisi Partai Golkar tersebut dalam keterangan tertulisnya.

Ia menegaskan korupsi merupakan kejahatan luar biasa sehingga masalah penahanan harus memiliki alasan objektif yang sangat selektif.

Menurutnya, alasan kemanusiaan seperti gangguan kesehatan berat baru bisa menjadi dasar pemindahan penahanan.

Mengutip laman parlementaria.com, Soedeson kembali mempertanyakan kepatutan langkah KPK tersebut meskipun secara hukum bersifat sah.

Ia berharap lembaga antirasuah tetap mengutamakan kepentingan negara dalam setiap pengambilan keputusan strategis.

KPK Pastikan Pemindahan Tahanan Bukan Karena Alasan Kesehatan

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan pemindahan tempat penahanan Yaqut ke sebuah kediaman di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Ia mengungkapkan bahwa langkah tersebut murni mengakomodasi permohonan keluarga, bukan karena kondisi darurat kesehatan tersangka.

“Bukan karena kondisi sakit. Jadi memang karena ada permohonan dari pihak keluarga, kemudian kami proses,” kata Budi menjelaskan prosedur tersebut.

Pihak KPK menjamin pengalihan ini tidak menghambat penyidikan kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan yang merugikan negara Rp622 miliar.

Lembaga ini berjanji segera melengkapi berkas perkara agar kasus tersebut secepatnya masuk ke tahap penuntutan.

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Baca Lainnya

Liga Mandiri KU-15 PSSI Purbalingga 2026 Rampung, Braling United Juara 1

27 Oktober 2026 - 14:01 WIB

Komite Pembinaan Usia Muda Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kabupaten Purbalingga merampungkan Turnamen Liga Mandiri Kelompok Usia 15 Tahun 2026 di lapangan hijau Desa Gembong.

FGBI Jawa Tengah Dorong Penguatan Kemahiran Berbahasa Indonesia, Lahirkan Talenta Sastra Berbakat Lomba Baca Puisi dan Berpidato

27 Oktober 2026 - 13:49 WIB

FGBI sukses merampungkan babak final lomba baca puisi dan berpidato tingkat provinsi di Gedung Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Senin, 26 Oktober 2026.

Panitia Pilkades Belum Mengumumkan DPT

25 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Polres Purbalingga dan Bapanas Turun Ke Pasar Cek Harga Sembako

16 Oktober 2026 - 16:07 WIB

MGMP Bahasa Indonesia SMP Purbalingga Gelar Lomba Berpidato dan Baca Puisi Memperingati Bulan Bahasa 2026

7 Oktober 2026 - 12:36 WIB

MGMP SMP Purbalingga menggelar Lomba Bulan Bahasa SMP Purbalingga 2026 cabang baca puisi dan pidato

Menelisik Berbagai Tantangan Klasik dan Kontemporer Pendidikan di Indonesia

5 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Trending di Nasional