PURBALINGGA,INDEPENDENSIBER.COM- Kabar baik bagi para pencinta alam dan penjelajah ketinggian. Setelah ditutup pada Sabtu (4/4/2026) lalu akibat peningkatan aktivitas vulkanik dan pemulihan ekosistem, jalur pendakian Gunung Slamet resmi dibuka kembali untuk umum pada bulan Juni 2026 ini.
Keputusan ini diambil setelah pos pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet menyatakan status aktivitas gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut telah turun ke Level I (Normal) dan relatif stabil. Pihak Perhutani KPH Banyumas Timur bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) terkait telah melakukan koordinasi ketat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Kuota Terbatas dan Sistem Booking Online
Untuk menjaga kelestarian alam dan mengantisipasi lonjakan pengunjung, pihak pengelola menerapkan aturan baru yang lebih ketat. Salah satunya adalah pembatasan kuota pendaki harian dan kewajiban registrasi secara daring.
“Kami tidak ingin ada penumpukan massa di pos-pos pendakian demi keselamatan bersama dan kelestarian ekosistem. Oleh karena itu, sistem booking online kini sepenuhnya diberlakukan,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Revon Haprindiat, Senin (8/6/2026).
Berikut adalah beberapa poin penting yang wajib diperhatikan oleh para calon pendaki:
Registrasi Online: Pendaftaran dilakukan melalui situs resmi yang ditunjuk pengelola minimal H-3 sebelum pendakian.
Pembatasan Kuota: Setiap jalur pendakian (seperti Bambangan, Guci, dan Dipajaya) hanya menyediakan kuota maksimal 200 hingga 300 pendaki per hari.
Pemeriksaan Kesehatan:
Pendaki wajib membawa surat keterangan sehat terbaru dari dokter.
Manajemen Sampah: Aturan zero waste diperketat; setiap barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah akan didata di basecamp dan wajib dibawa turun kembali.
Imbauan untuk Para Pendaki
Meski status dinyatakan aman (Normal), pihak pengelola tetap mengimbau para pendaki untuk tidak meremehkan jalur Gunung Slamet yang terkenal dengan medannya yang terjal dan cuacanya yang cepat berubah.
Pendaki dilarang keras mendekati bibir kawah aktif dalam radius tertentu yang telah dipetakan oleh pihak berwenang. Perlengkapan mendaki yang standar, logistik yang cukup, serta kesiapan fisik yang matang menjadi syarat mutlak yang tidak boleh ditawar.
Dengan dibukanya kembali jalur pendakian ini, roda perekonomian warga di sekitar basecamp yang sempat lesu kini diharapkan dapat kembali menggeliat, sembari tetap menjaga komitmen kelestarian lingkungan dan keselamatan bersama.










