PURWOKERTO,INDEPENDENSIBER.COM- Tren gaya hidup masyarakat urban kini tengah mengalami pergeseran emosional yang cukup signifikan. Jika beberapa tahun lalu istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan tertinggal tren begitu mendominasi, kini sebagian besar generasi muda di perkotaan mulai beralih memeluk JOMO (Joy of Missing Out).
Yaitu sebuah seni menikmati ruang kesendirian tanpa rasa cemas tertinggal dari riuhnya dunia digital. Fenomena ini salah satunya terlihat dari menjamurnya aktivitas offline yang berbasis ketenangan di Purwokerto, mulai dari kelas meditasi, lokakarya kerajinan tangan (pottery workshop), hingga meningkatnya kunjungan ke kafe-kafe berkonsep silent cafe atau ruang baca komunal.
Seorang pekerja kreatif asal Purwokerto, Hanif (26), mengaku sengaja menghapus beberapa aplikasi media sosial dari ponselnya setiap akhir pekan. Langkah ini ia lakukan demi mendapatkan ketenangan pikiran yang selama ini terenggut oleh paparan informasi yang berlebihan.
“Awalnya ada rasa cemas kalau tidak tahu tren terbaru atau tidak ikut kumpul-kumpul. Tapi setelah dicoba, ternyata melewatkan itu semua justru membawa ketenangan. Saya punya lebih banyak waktu untuk membaca buku dan tidur berkualitas,” ujar Hanif di sebuah sudut ruang baca komunal di kawasan kuliner GOR Satria, Sabtu (13/6/2026).
Bukan Sekadar Tren, Tapi Kebutuhan
Psikolog klinis berbasis di Purwokerto, Dr. Amalia Fitri, M.Psi., menjelaskan bahwa gerakan JOMO muncul sebagai mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) alami manusia terhadap kejenuhan digital (digital fatigue).
“Manusia tidak dirancang untuk menerima stimulasi informasi visual dan emosional nonstop selama 24 jam. JOMO adalah sinyal bahwa masyarakat mulai sadar akan pentingnya batasan (boundaries) untuk menjaga kesehatan mental mereka,” tutur Amalia.
Menurut data survei perilaku konsumen digital baru-baru ini, terdapat peningkatan sebesar 35% pada jumlah masyarakat urban usia 20-35 tahun yang membatasi waktu layar (screen time) mereka di bawah 3 jam per hari secara sengaja.
Dampak pada Industri Kreatif lokal
Pergeseran gaya hidup ini secara tidak langsung turut mengubah peta bisnis lokal. Pelaku usaha kini tidak lagi sekadar menjual tempat yang instagramable atau estetis demi memancing pengunjung berswafoto. Sebaliknya, kenyamanan, kesunyian, dan privasi kini menjadi komoditas baru yang paling dicari.
Dengan semakin meluasnya kesadaran akan gaya hidup JOMO, melewatkan keriuhan media sosial atau tidak hadir dalam setiap acara komunitas bukan lagi dianggap sebagai bentuk antisosial, melainkan sebuah kemewahan baru dalam menjalani hidup yang lebih lambat dan bermakna (slow living).










