INDEPENDENSIBER.com – Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purbalingga menyambut usia ke-160 tahun pada 5 Mei 2026 mendatang.
Menilik sejarah, perhitungan usia tersebut merujuk pada ketetapan Menteri.
Mengikuti arahan Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), pihak gereja mengusung tema besar mengenai kelangsungan lingkungan hidup.
Umang Sumarsono, Pengurus Komisi Hari Besar Kristen (GKJ) menjelaskan, isu penebangan hutan serta alih fungsi lahan menjadi perhatian utama dalam perayaan kali ini.
Gereja memandang penting perlindungan alam bagi kehidupan masa depan. Rangkaian kegiatan bermula pada Minggu, 26 April 2026 melalui aksi donor darah bagi warga jemaat.
Panitia menjalin kerja sama dengan PMI Kabupaten Purbalingga guna melancarkan agenda kemanusiaan tersebut.
Aksi ini berlangsung di Gereja Induk usai ibadah pagi. Menginjak hari Jumat, 1 Mei 2026, agenda berlanjut dengan kegiatan sepeda santai.
Peserta sepeda santai akan menempuh rute dari Gereja Induk menuju Gereja Pepantan Muntang.
Perjalanan kemudian berakhir di Gereja Pepantan Purwosari yang terletak di Desa Toyareka.
Melalui rute ini, pihak panitia hendak menyebarkan semangat kepedulian alam secara langsung kepada warga.
Pada kedua lokasi tersebut, panitia menyerahkan bibit pohon alpukat sebanyak masing-masing 100 batang.
Penyerahan bibit menyasar area halaman gereja, warga jemaat, hingga masyarakat umum pemilik lahan.
Upaya ini bertujuan agar masyarakat tergerak memelihara pohon demi kelestarian lingkungan.
Resepsi Budaya Jawa Penuh Makna
Memasuki Minggu, 3 Mei 2026, jemaat akan mengikuti ibadah pagi lebih awal yakni pukul 5.
Usai beribadah, seluruh warga jemaat mengikuti jalan sehat melewati rute pusat kota hingga kembali ke gereja.
Panggung musik oleh pemuda gereja serta berbagai lomba seru akan menyambut para peserta di garis finis.
Puncak perayaan atau resepsi hari jadi berlangsung tepat pada 5 Mei 2026 pukul 17.00 WIB. Mengingat identitas sebagai Gereja Kristen Jawa, nuansa etnik akan mendominasi seluruh rangkaian acara.
Musik gamelan akan mengiringi ibadah serta selebrasi sebagai simbol pelestarian budaya.
Dekorasi ruangan pun menggunakan bahan alami seperti janur untuk memperkuat kesan tradisional.
Bahkan, pihak gereja mewajibkan seluruh jemaat mengenakan pakaian adat Jawa saat menghadiri puncak acara tersebut.
Kemeriahan ini menjadi simbol syukur atas perjalanan panjang pelayanan gereja selama satu setengah abad lebih di Purbalingga.







