Menu ✖

Mode Gelap

Politik Hukum · 11 Mei 2026 11:15 WIB

Penanganan Residivis Tidak Hanya Tugas Lapas dan APH


					grafis residivis saat hukuman di jeruji besi Perbesar

grafis residivis saat hukuman di jeruji besi

JAKARTA,INDEPENDENSIBER.COM- Penanganan residivis agar tidak mengulangi perbuatan yang sama di lain hari, bukan hanya tugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) maupun aparat penegak hukum (APH). Namun peran masyarakat harus turut serta menjadi keharusan.
Sesuai data Kementerian Hukum dan HAM RI, proses reintegrasi sosial untuk memutuskan rantai residivisme bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga pemasyarakatan (lapas) dan aparat penegak hukum semata.

Seperti dikatakan Wakil Menteri Hukum (Wamenkum), Edward Omar Sharif Hiariej alias Eddy Hiariej, menegaskan, dalam paradigma KUHP dan KUHAP yang baru, peran masyarakat turut menjadi kunci keberhasilan proses tersebut.

“Pembinaan terhadap narapidana atau terpidana itu semata-mata bukan (hanya) tugas dari lapas. Tetapi tugas kita semua,” tegas baru-baru ini.

Pernyataan Eddy ini ditekankan sebagai pengingat bahwa keberhasilan reintegrasi sosial tidak bisa berjalan tanpa dukungan publik.

Ia menilai pola pikir masyarakat yang masih melihat hukum sebagai sarana balas dendam, menjadi tantangan terbesar dalam upaya pembinaan yang lebih manusiawi.

“Yang saya khawatirkan bukan polisi, jaksa, hakim, pembimbing kemasyarakatan, maupun advokat, yang saya khawatir, yang tidak siap itu adalah masyarakat. Mengapa? Masyarakat kita pada umumnya masih menggunakan paradigma hukum zaman Hammurabi dulu, yang menggunakan hukum pidana sebagai sarana balas dendam,” tambahnya.

Selain itu, fenomena residivisme kerap disalahartikan sebagai kegagalan pembinaan di dalam lapas. Padahal, stigma sosial yang terus melekat pada mantan narapidana justru menjadi faktor kuat yang mendorong mereka kembali melakukan pelanggaran.

Pengalaman mengunjungi ratusan lapas, rutan (rumah tahanan negara), dan bapas (balai pemasyarakatan) menunjukkan bahwa tidak semua orang di dalam penjara adalah buruk, dan tidak semua yang di luar penjara adalah baik.

“Ketika saya menjadi Wamenkumham (Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia), saya selalu mengatakan kepada narapidana, (untuk) membesarkan hati mereka. Tidak selamanya orang yang berada di dalam penjara itu buruk, dan tidak selamanya orang yang berada di luar penjara itu baik,” tutupnya.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Avatar photo badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Liga Mandiri KU-15 PSSI Purbalingga 2026 Rampung, Braling United Juara 1

27 Oktober 2026 - 14:01 WIB

Komite Pembinaan Usia Muda Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kabupaten Purbalingga merampungkan Turnamen Liga Mandiri Kelompok Usia 15 Tahun 2026 di lapangan hijau Desa Gembong.

FGBI Jawa Tengah Dorong Penguatan Kemahiran Berbahasa Indonesia, Lahirkan Talenta Sastra Berbakat Lomba Baca Puisi dan Berpidato

27 Oktober 2026 - 13:49 WIB

FGBI sukses merampungkan babak final lomba baca puisi dan berpidato tingkat provinsi di Gedung Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Senin, 26 Oktober 2026.

Panitia Pilkades Belum Mengumumkan DPT

25 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Polres Purbalingga dan Bapanas Turun Ke Pasar Cek Harga Sembako

16 Oktober 2026 - 16:07 WIB

MGMP Bahasa Indonesia SMP Purbalingga Gelar Lomba Berpidato dan Baca Puisi Memperingati Bulan Bahasa 2026

7 Oktober 2026 - 12:36 WIB

MGMP SMP Purbalingga menggelar Lomba Bulan Bahasa SMP Purbalingga 2026 cabang baca puisi dan pidato

Menelisik Berbagai Tantangan Klasik dan Kontemporer Pendidikan di Indonesia

5 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Trending di Nasional