Menu ✖

Mode Gelap

Gaya Hidup · 13 Jun 2026 07:33 WIB

Kalangan Urban Memilih Absen Demi Kesehatan Mental


					fotonet, kalangan urban lebih memilih JOMO dari FOMO Perbesar

fotonet, kalangan urban lebih memilih JOMO dari FOMO

PURWOKERTO,INDEPENDENSIBER.COM- Tren gaya hidup masyarakat urban kini tengah mengalami pergeseran emosional yang cukup signifikan. Jika beberapa tahun lalu istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan tertinggal tren begitu mendominasi, kini sebagian besar generasi muda di perkotaan mulai beralih memeluk JOMO (Joy of Missing Out).

Yaitu sebuah seni menikmati ruang kesendirian tanpa rasa cemas tertinggal dari riuhnya dunia digital. Fenomena ini salah satunya terlihat dari menjamurnya aktivitas offline yang berbasis ketenangan di Purwokerto, mulai dari kelas meditasi, lokakarya kerajinan tangan (pottery workshop), hingga meningkatnya kunjungan ke kafe-kafe berkonsep silent cafe atau ruang baca komunal.

Seorang pekerja kreatif asal Purwokerto, Hanif (26), mengaku sengaja menghapus beberapa aplikasi media sosial dari ponselnya setiap akhir pekan. Langkah ini ia lakukan demi mendapatkan ketenangan pikiran yang selama ini terenggut oleh paparan informasi yang berlebihan.

“Awalnya ada rasa cemas kalau tidak tahu tren terbaru atau tidak ikut kumpul-kumpul. Tapi setelah dicoba, ternyata melewatkan itu semua justru membawa ketenangan. Saya punya lebih banyak waktu untuk membaca buku dan tidur berkualitas,” ujar Hanif di sebuah sudut ruang baca komunal di kawasan kuliner GOR Satria, Sabtu (13/6/2026).

Bukan Sekadar Tren, Tapi Kebutuhan

Psikolog klinis berbasis di Purwokerto, Dr. Amalia Fitri, M.Psi., menjelaskan bahwa gerakan JOMO muncul sebagai mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) alami manusia terhadap kejenuhan digital (digital fatigue).

“Manusia tidak dirancang untuk menerima stimulasi informasi visual dan emosional nonstop selama 24 jam. JOMO adalah sinyal bahwa masyarakat mulai sadar akan pentingnya batasan (boundaries) untuk menjaga kesehatan mental mereka,” tutur Amalia.

Menurut data survei perilaku konsumen digital baru-baru ini, terdapat peningkatan sebesar 35% pada jumlah masyarakat urban usia 20-35 tahun yang membatasi waktu layar (screen time) mereka di bawah 3 jam per hari secara sengaja.

Dampak pada Industri Kreatif lokal

Pergeseran gaya hidup ini secara tidak langsung turut mengubah peta bisnis lokal. Pelaku usaha kini tidak lagi sekadar menjual tempat yang instagramable atau estetis demi memancing pengunjung berswafoto. Sebaliknya, kenyamanan, kesunyian, dan privasi kini menjadi komoditas baru yang paling dicari.

Dengan semakin meluasnya kesadaran akan gaya hidup JOMO, melewatkan keriuhan media sosial atau tidak hadir dalam setiap acara komunitas bukan lagi dianggap sebagai bentuk antisosial, melainkan sebuah kemewahan baru dalam menjalani hidup yang lebih lambat dan bermakna (slow living).

 

Artikel ini telah dibaca 11 kali

Baca Lainnya

Liga Mandiri KU-15 PSSI Purbalingga 2026 Rampung, Braling United Juara 1

27 Oktober 2026 - 14:01 WIB

Komite Pembinaan Usia Muda Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kabupaten Purbalingga merampungkan Turnamen Liga Mandiri Kelompok Usia 15 Tahun 2026 di lapangan hijau Desa Gembong.

FGBI Jawa Tengah Dorong Penguatan Kemahiran Berbahasa Indonesia, Lahirkan Talenta Sastra Berbakat Lomba Baca Puisi dan Berpidato

27 Oktober 2026 - 13:49 WIB

FGBI sukses merampungkan babak final lomba baca puisi dan berpidato tingkat provinsi di Gedung Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Senin, 26 Oktober 2026.

Panitia Pilkades Belum Mengumumkan DPT

25 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Polres Purbalingga dan Bapanas Turun Ke Pasar Cek Harga Sembako

16 Oktober 2026 - 16:07 WIB

MGMP Bahasa Indonesia SMP Purbalingga Gelar Lomba Berpidato dan Baca Puisi Memperingati Bulan Bahasa 2026

7 Oktober 2026 - 12:36 WIB

MGMP SMP Purbalingga menggelar Lomba Bulan Bahasa SMP Purbalingga 2026 cabang baca puisi dan pidato

Menelisik Berbagai Tantangan Klasik dan Kontemporer Pendidikan di Indonesia

5 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Trending di Nasional