INDEPENDENSIBER.com – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyoroti pentingnya kesiapsiagaan daerah.
Langkah utama tertuju pada upaya menyelamatkan masyarakat kala erupsi melanda.
“Ini menjadi bahan awal kita sosialisasikan ke masyarakat, khususnya di lima wilayah terdampak,” tegas Bergas.
“Kuncinya bagaimana kita bisa menyelamatkan masyarakat apabila terjadi erupsi,” imbuhnya.
Ia memandang seluruh pihak wajib memulai edukasi publik sejak awal.
Pencegahan serta penanganan bencana menghendaki partisipasi aktif semua elemen masyarakat, bukan sekadar tugas pemerintah semata.
“Yakni dengan Pendekatan kolaboratif menjadi kunci keberhasilan mitigasi,” katanya.
Revisi Skema Penyelamatan Warga
Tiap sektor harus mengambil peran sebagai subjek guna mengantisipasi bencana.
Bergas menerangkan, BPBD Jawa Tengah telah memiliki rencana kontingensi Gunung Slamet sejak 2021.
“Ini tinggal kita sesuaikan. Sekaligus mengingatkan kembali pihak-pihak yang akan terlibat, seperti TNI dan Polri,” jelasnya.
Pemutakhiran mencakup perubahan jumlah penduduk beserta pantauan jalur aliran material vulkanik.
Kejadian banjir bandang area Pemalang serta Purbalingga Januari lalu telah memberi pelajaran penting.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi BPBD merancang respons cepat.
“Ini soal manajemen penanggulangan bencana. Bagaimana kita bisa menyelamatkan masyarakat secepat mungkin,” ungkapnya.
Ia menekankan aparatur desa beserta kecamatan menempati posisi paling vital.
“Desa tangguh bencana dan kecamatan tangguh bencana itu penting, karena mereka yang berada di garis depan,” pungkasnya.







