5. Kartini Manoppo
Kisah domestik bersama Kartini Manoppo tergolong jarang terangkat dalam buku sejarah umum.
Kartini merupakan pramugari maskapai Garuda Indonesia sekaligus model asal keluarga terhormat pada Bolaang Mongondow, Sulawesi.
Soekarno terpikat setelah menatap pesona Kartini lewat lukisan maestro Basuki Abdullah.
Pernikahan pada tahun 1959 ini membuahkan seorang putra bernama Totok Suryawan Sukarno.
6. Ratna Sari Dewi
Ratna Sari Dewi yang menyandang nama lahir Naoko Nemoto lahir pada kota Tokyo tanggal 6 Februari 1940.
Pertemuan perdana keduanya berlangsung pada Hotel Imperial, Jepang, sebelum akhirnya melangsungkan pernikahan pada tahun 1962.
Pasangan ini memiliki anak perempuan bernama Kartika Sari Dewi.
Sang istri sempat menetap pada Paris menjelang runtuhnya kekuasaan Soekarno, lalu sempat kembali ke Jakarta sebelum akhirnya bermukim kembali ke Tokyo.
7. Haryati
Pertemuan Soekarno dengan Haryati berlangsung pada Istana Tampaksiring, Bali saat menyambut kunjungan Presiden Filipina.
Keduanya meresikan pernikahan melalui KUA Gambir pada 21 Mei 1963 secara privat sesuai permintaan sang presiden.
Namun, ikatan suci ini tidak bertahan lama karena faktor ketidakcocokan yang memicu perceraian.
8. Yurike Sanger
Yurike Sanger merupakan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika yang memikat hati Soekarno sewaktu masih menempuh pendidikan sekolah menengah pertama.
Sang Proklamator meminang Yurike pada tahun 1964.
Sayangnya, gejolak politik serta keruntuhan kekuasaan memaksa Soekarno meminta Yurike mengajukan gugatan cerai demi kebaikan bersama setelah empat tahun membina rumah tangga.
9. Heldy Djafar
Heldy Djafar menjadi perempuan terakhir yang menerima pinangan Soekarno pada tahun 1966.
Gadis asal Tenggarong, Kalimantan Timur ini menikah pada usia 18 tahun, sedangkan sang suami telah memasuki usia senja 65 tahun.
Komunikasi mereka mulai renggang saat pemerintah mengisolasi Soekarno pada Wisma Yaso
Hingga akhirnya mereka berpisah dan Heldy menikah kembali pada tahun 1968.
Selain sembilan nama tersebut, publik kerap mengaitkan nama Maharani Wisma Susana Siregar serta Sakiko Kanase meski minim data valid.
Secara keseluruhan, kehadiran para perempuan ini mengiringi langkah sejarah sang proklamator dalam melahirkan sembilan putra-putri serta dua anak angkat bagi bangsa Indonesia.









